Tren Prevalansi Stunting Kota Tangerang Capai 5,4 Persen
Berdasarkan Survei Status Gizi
Indonesia (SSGI) tahun 2024, Dinas Kesehatan Kota Tangerang bahwa tren masalah
status gizi balita Kota Tangerang tercatat sebesar 11,2 persen, dan tren
prevalensi balita stunting berada di angka 5,4 persen. Itu artinya angka
tersebut lebih rendah dibandingkan angka stunting Provinsi Banten 21,1 persen,
angka nasional 19,8 persen bahkan target nasional di 14 persen.
Kepala Dinas Kesehatan dr. Dini
Anggraeni mengaku selama lima tahun terakhir, Kota Tangerang berhasil
mempertahankan angka prevalensi stunting anak balita secara konsisten di bawah
prevalensi Provinsi Banten dan nasional.
“Kita akan terus memperkuat program
pencegahan sejak dini, dimulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil hingga
gizi anak,” katanya.
Selain itu, lanjutnya, penanganan
stunting secara spesifik yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan adalah Gerakan
Serentak Cegah Stunting di tingkat kelurahan, pemberian makanan
tambahan berbasis pangan lokal, Dapur PKK Dashat, SATE SAMI, bekerja sama
dengan 34 rumah sakit dalam pelayanan rujukan balita stunting, pemanfaatan
data elektronik berbasis masyarakat melalui SIDATA dan e-PPGBM dalam pemantauan
tumbuh kembang balita dan ibu hamil, pengoptimalan peran TPK khususnya dalam
1.000 hari pertama kehidupan dan meningkatkan cakupan kunjungan ibu hamil dan
balita ke layanan kesehatan.
Tak hanya secara spesifik, penurunan
angka stunting di Kota Tangerang dilakukan dengan cara sensitif. Salah satunya,
upaya yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak,
Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB).
Kepala Dinas P3AP2KB Kota Tangerang
Tihar Sopian mengungkapkan, berdasarkan data DP3AP2KB di tahun 2024 sekitar
30.980 anak berisiko stunting berhasil diturunkan di estimasi
semester 1 sebesar 25.055 anak. Artinya, ada penurunan sekitar 5.000 anak di
semester 1 dan kita sudah estimasi di semester kedua bisa mencapai 10.000 anak.
Ia mengaku, penurunan angka balita
resiko stunting tidak luput dari berbagai upaya atau program utama
DP3AP2KB. Seperti Genting (Gerakan Orang tua Asuh Cegah Stunting), dimana
program ini berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat dana
penurunan stunting terutama bagi keluarga berisiko.
Lanjutnya, Program Mini Loka Karya
di setiap kecamatan, Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berkontribusi terhadap
keberhasilan melalui pendampingan ibu hamil, calon pengantin, baduta, balita
dan memberi edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya 1000 hari pertama
kehidupan.
Selain itu, intervensi sensitif juga melibatkan atau berkolaborasi lintas sektor dengan melibatkan berbagai OPD, lembaga swasta dan masyarakat. Seperti Dinas Perkim terkait jamban atau rumah sehat, Dinsos terkait bantuan makanan dan lembaga lainnya.